Total Pageviews

Saturday, February 20, 2010

Fakta Mengagumkan Tentang Hajar Aswad: Radiasi Hajar Aswad Merupakan Penghubung antara Ka’Bah di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat

Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekah adalah pusat dari planet Bumi. Fakta ini telah di diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah.
Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata, “Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya ?.”
Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayang nya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada alasan tersembunyi dibalik penghapusan website tersebut.
Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite ( tidak berujung ), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.
Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila kita mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.

Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Mekah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu lah ketika kita mengelilingi Ka’Bah, maka seakan-akan diri kita di-charged ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.
Penelitian lainnya mengungkapkan bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air. Di sebuah musium di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut ( dari Ka’Bah ) dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.

Tuesday, February 16, 2010

BIOREMEDIASI

Pembuangan air limbah baik yang bersumber dari kegiatan domestik (rumah tangga) maupun industri ke badan air dapat menyebabkan pencemaran lingkungan apabila kualitas air limbah tidak memenuhi baku mutu limbah. Sebagai contoh, mari kita lihat Kota Jakarta. Jakarta merupakan sebuah ibukota yang amat padat sehingga letak septic tank, cubluk (balong), dan pembuangan sampah berdekatan dengan sumber air tanah. Terdapat sebuah penelitian yang mengemukakan bahwa 285 sampel dari 636 titik sampel sumber air tanah telah tercemar oleh bakteri coli. Secara kimiawi, 75% dari sumber tersebut tidak memenuhi baku mutu air minum yang parameternya dinilai dari unsur nitrat, nitrit, besi, dan mangan.
Bagaimana dengan air limbah industri? Dalam kegiatan industri, air limbah akan mengandung zat-zat/kontaminan yang dihasilkan dari sisa bahan baku, sisa pelarut atau bahan aditif, produk terbuang atau gagal, pencucian dan pembilasan peralatan, blowdown beberapa peralatan seperti kettle boiler dan sistem air pendingin, serta sanitary wastes. Agar dapat memenuhi baku mutu, industri harus menerapkan prinsip pengendalin limbah secara cermat dan terpadu baik di dalam proses produksi (in-pipe pollution prevention) dan setelah proses produksi (end-pipe pollution prevention). Pengendalian dalam proses produksi bertujuan untuk meminimalkan volume limbah yang ditimbulkan, juga konsentrasi dan toksisitas kontaminannya. Sedangkan pengendalian setelah proses produksi dimaksudkan untuk menurunkan kadar bahan peencemar sehingga pada akhirnya air tersebut memenuhi baku mutu yang sudah ditetapkan

Thursday, February 11, 2010

BIOMASS ETHANOL


Abstract
Ethanol made from lignocellulosic biomass sources, such as agricultural and forestry residues and herbaceous and woody crops, provides unique environmental, economic, and strategic benefits. Through sustained research funding, primarily by the U.S. Department of Energy, the estimated cost of biomass ethanol production has dropped from »$4.63/gallon in 1980 to »$1.22/gallon today, and it is now potentially competitive for blending with gasoline. Advances in pretreatment by acid-catalyzed hemicellulose hydrolysis and enzymes for cellulose breakdown coupled with recent development of genetically engineered bacteria that ferment all five sugars in biomass to ethanol at high yields have been the key to reducing costs. However, through continued advances in accessing the cellulose and hemicellulose fractions, the cost of biomass ethanol can be reduced to the point at which it is competitive as a pure fuel without subsidies. A major challenge to realizing the great benefits of biomass ethanol remains to substantially reduce the risk of commercializing first-ofa- kind technology, and greater emphasis on developing a fundamental understanding of the technology for biomass conversion to ethanol would reduce application costs and accelerate commercialization. Teaming of experts to cooperatively research key processing steps would be a particularly powerful and effective approach to meeting

these needs.
Charles E.Wyman

Thayer School of Engineering, Dartmouth College, Hanover, New Hampshire 03755, and BC International, Dedham, Massachusetts 02026;

e-mail: Charles.E.Wyman@Dartmouth.edu

Sunday, January 31, 2010

Abi wiyono ( BOTEK )


Botani ekonomi adalah suatu bidang studi yang mempelajari nilai ekonomi daru satu jenis tanaman. Sedangkan Ekonomi Botani adalah suatu pembelajaran mengenai penggunaan komersial dari suatu tanaman (“Economic Botany is an academic journal that deals with the commercial uses of plants”).
Menurut Martin (1998) terma ekonomi yang diungkapkan sebagai satu disiplin ilmu pada abad ke lapan belas secara relatifnya masih baru, walaupun aktivitas perniagaan dan pertukaran barangan yang merupakan salah satu komponen ekonomi telah berlaku beribu-ribu tahun dahulu. Botani adalah salah satu disiplin ilmu yang tertua seawal manusia mulai membangun peradaban dan bersosialisasi dimana manusia mulai berinteraksi dengan tumbuhan yang ada di sekitarnya (Stace, 1980). Gabungan antara ilmu Botani dan ilmu Ekonomi adalah satu disiplin ilmu integratif – komprihensif yang secara relatifnya jauh lebih baru.

PERKEMBANGAN BOTANI EKONOMI 
Pada awalnya botani ekonomi telah dicetuskan oleh Corner (1966) dimana beliau memberi penghargaan terhadap usaha yang telah dilakukan oleh Gubernur Belanda di Malabar, Heinrich van Rheede tot Drnakenstein (1637-92) yang telah menerbitkan Hortus Malabaricus dalam 12 jilid yang berisi uraian tentang tumbuhan, mulai dari penamaan, kegunaan oleh masyarakat setempat, ekologi dan kepercayaan tradisional mengenai tumbuhan. Corner menyatakan hasil kerja Drnakenstein itu sangat berharga dan dianggap sebagai hasil kerja Botani Ekonomi. Secara umum hasil kerja Drnakenstein dapat diklasifikasikan sebagai penulisan sebuah Flora Malabar. Walaupun sebuah flora tidak memberikan kepentingan langsung dalam bidang ekonomi, tapi sebenarnya Flora secara tidak langsung membuka ruang bagi kepentingan ekonomi di suatu kawasan geografi. Sebagai contoh uraian mengenai tumbuhan membuka ruang pada kajian secara mendalam tentang aspek morfologi dan anatomi tumbuhan serta kegunaannya baik secara langsung atau tidak. Informasi tentang pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat sekitar sebenarnya memberi petunjuk langsung mengenai potensi pasarnya. Informasi ekologi memberikan data tentang sebaran dan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya. Karena hal inilah pada masa tersebut penjajah bersungguh-sungguh mengumpulkan informasi dan menyiapkan beberapa flora di tanah jajahan mereka.
Perkembangan selanjutnya Botani ekonomi didasarkan laporan Martin (1998) yang mengemukakan bahwa disiplin botani ekonomi merujuk secara khusus pada kajian nilai ekonomi pada suatu tumbuhan, yaitu menekankan pada usaha-usaha penemuan tumbuhan-tumbuhan  yang dapat mendatangkan kepentingan secara global atau bermanfaat bagi pembangunan negara dan masyarakat. Menurut Martin, saat ini banyak peneliti yang menggali keuntungan ekonomi dalam usaha pemeliharaan hutan serta mendokumentasikan pengetahuan ekologi tradisional. 

Cara mudah mengolah sampah menjadi pupuk kompos

Skema Wadah Kompos Dapur
Kompos memiliki kegunaan, antara lain, i) memperbaiki struktur tanah; ii) memperbesar daya ikat tanah berpasir; iii) menambah daya ikat air tanah; iv) memperbaiki drainase dan tata udara tanah, serta v) mengandung hara (tergantung bahan bakunya).
Namun tak semua sampah rumah tangga bisa dibuat kompos. Hanya Sampah yang berasal dari dapur seperti kulit buah, sisa sayur, sisa buah, sisa makanan dan sampah kebun (dedaunan, rumput dll) yang dapat dibuat kompos.
Langkah awal membuat kompos adalah sediakan wadah untuk pengomposan. Tempat pengomposan dapat bermacam-macam, seperti lubang dalam tanah, bak, drum, baskom, dan sebagainya. Syaratnya adalah wadah tidak terkena hujan secara langsung. Jika wadah yang dipergunakan berupa drum atau baskom plastik, hendaknya dilubangi pada bagian dasar sebanyak lima lubang dan diletakkan di atas susunan batu bata.
Cara Membuat Kompos
Tidaklah sulit untuk membuat kompos dari limbah dapur tersebut. Berikut ini langkah-langkah pembuatannya.
1.Pemisahan sampah
 Pisahkan sampah organik dari sampah anorganik (plastik, kaleng, karet). Sampah organik berupa sisa makanan, kulit buah, sisa sayuran. Sampah yang berukuran besar sebaiknya dipotong/dicacah terlebih dahulu.
2.Pencampuran
 Isi wadah dengan kompos lama setinggi 1/3, selanjutnya sampah dapur dimasukkan. Aduk bahan secara merata. Bahan bisa ditambah serbuk gergaji atau pupuk kandang dan organisme perombak limbah/ragi kompos (Tricholant). Tutup wadah dengan karung/plastik.
3.Pematangan
 Aduk sampah setiap 7 hari, selama proses berlangsung suhu bahan berkisar 30-70 oC. Memasuki minggu ke-5 atau ke-6, kompos sudah jadi. Cirinya adalah tidak berbau busuk, berbau tanah, warna coklat kehitaman dan suhu 30-32 oC.
4.Pengayakan dan Pengemasan
 Kompos yang sudah matang diayak untuk memperoleh hasil seragam, lalu dikemas dalam plastik.
Untuk mendapatkan pupuk kompos yang baik, beberapa fisik bahan yang dapat dilihat secara visual dan dirasakan, antara lain, i) warna kompos coklat kehitaman; ii) tidak berbau busuk atau menyengat, tetapi berbau tanah tanah; iii) berbutir halus, lunak ketika dihancurkan dengan jari-jari tangan; iv) delama dalam pengomposan suhu bahan organik berkisar 30-70oC; v) kelembaban bahan organik berkisar 40-60 oC; dan vi) derajat kemasaman pH kompos berkisar antara 6,5-7,5.
Tak sulit bukan untuk bisa membantu pemerintah menanggulangi masalah sampah? Jadi, mulai saat ini marilah kita sediakan dua tempat sampah di dapur kita. Satu untuk sampah dapur organik, dan satu lagi untuk yang anorganik.